Rakyat Kehilangan Suaranya (Lagi)

1 10 2014

Pada tanggal 26 September 2014, melalui sistem voting, DPR telah menetapkan sistem pemilihan Kepala Daerah dipilih melalui DPRD. Sebelumnya, sejumlah fraksi di DPR yang tergabung dalam koalisi merah putih mengupayakan revisi UU untuk mengembalikan mekanisme sistem PEMILUKADA menjadi tidak langsung (melalui DPRD), pertimbangannya adalah banyaknya para pemimpin daerah yang tersandung kasus korupsi, mahalnya biaya penyelenggaraan yang dianggap boros anggaran negara, kencangnya serta maraknya money politics.

Keputusan ini tentu membuat banyak masyarakat kecewa. Setelah 16 tahun bangsa Indonesia mencoba untuk mengembalikan demokrasi ke dalam sistem pemerintahan Indonesia, akhirnya kembali lagi ke mekanisme lama yang menurut banyak kalangan tidak mewakili konsep demokrasi. Dengan PEMILUKADA tidak langsung, banyak masyarakat yang merasa suaranya kurang terwakilkan, karena belum tentu pilihan DPRD telah mewakili kriteria pemimpin yang dibutuhkan oleh rakyat. Selain itu, PEMILUKADA tidak langsung juga dianggap akan menyebabkan tingginya lobi-lobi politik antar partai yang ujung-ujungnya juga money politic, namun dengan skala yang lebih besar ketimbang di PEMILUKADA langsung.

PEMILUKADA tidak langsung dirasa terlalu dipaksakan dan kental dengan kepentingan politis. Masih teringat panasnya suhu politik Indonesia terkait pemilihan umum presiden (pilpres) lalu. Partai-partai politik (parpol) yang kalah mengusung capresnya menjadi presiden terkesan masih tidak berlapang dada menerima hasil pilpres lalu. Banyak pihak melihat ini sebagai strategi politik koalisi merah putih untuk menjegal dominasi dari Jokowi dan JK di daerah. Karena jika RUU ini tidak ada maka popularitas Jokowi-JK yang sedang naik tentu akan merembet ke daerah yang akan menyebabkan calon yang diusung oleh koalisi merah putih menjadi kalah populer.

Panasnya situasi politik menjelang pilpres 2014 lalu menyebabkan terpecahnya soliditas masyarakat Indonesia. Pendukung kedua belah pihak banyak saling serang fisik maupun non fisik. Di jaringan sosial seperti facebook, twitter, dan path ramai dengan black campaign dan sinisme antar pendukung, kondisi ini jika berlarut-larut tentu akan membahayakan kesatuan NKRI, apalagi pendukung kedua belah pihak tetap loyal meskipun pilpres telah usai. Dengan PEMILUKADA tidak langsung kondisi ini bisa terhindari. Dengan mekanisme PEMILUKADA tidak langsung masyarakat hanya melihat parpol saja dan ketika suatu parpol tidak dapat menang mutlak, umumnya mereka akan berkoalisi dan masyarakat tinggal terima beres saja siapa yang akan menjadi pemimpin daerahnya nanti. Tidak ada lagi fanatisme berlebihan terhadap satu sosok.

Namun demikian, jika dilihat perkembangan pengetahuan politik di tengah masyarakat Indonesia, saat ini kondisinya jauh lebih baik, terlihat dari besarnya animo masyarakat dalam mengikuti perkembangan politik di Indonesia. Masyarakat lebih jelas melihat sosok mana yang akan kerja dengan benar, menepati janji, dan bekerja atas nama rakyat. Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil dan Tri Rismaharani atau kerap dipanggil bu Risma, adalah para pemimpin daerah hasil dari PEMILUKADA langsung yang bekerja sesuai dengan harapan masyarakatnya. Ini bukti bahwa masyarakat telah mengerti standar pemimpin yang mereka mau dan yakini.

PEMILUKADA tidak langsung ini hanya akan mengembalikan kondisi politik Indonesia menjadi seperti jaman orde baru. Pemimpin daerah juga bisa diperas oleh DPRD karena “balas budi” atas kemenangannya di PEMILUKADA. Selain itu, pemimimpin daerah akan sulit menjalankan idealismenya ditengah ambisi DPRD yang terkadang berseberangan. Pertikaian Ahok dengan H.Lulung yang sering terjadi misalnya, adalah bentuk dari seringnya terjadi benturan kepentingan antara DPRD dengan Pemerintah Daerah/Kota.

PEMILUKADA langsung merupakan cita-cita demokrasi di Indonesia, manfaatnya dirasa jauh lebih besar ketimbang mudharatnya. Jangan hanya karena dendam politik sekelompok partai masyarakat Indonesia kembali kehilangan suaranya setelah beberapa saat ini merasakan indahnya kebebasan dalam memilih, memiliki pandangan, serta memiliki keyakinan terhadap pemimpinnya.


 

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: